Bogor, JMOL ** Desas-desus kenaikan harga BBM bersubsidi membuat masyarakat khawatir. Pasalnya, Pemerintahan Jokowi-JK berencana menaikkan harga BBM premium dan solar bersubsidi sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 dari harga saat ini. Implikasinya, terjadi disparitas harga yang cukup tinggi menjelang awal 2015.

 

Hal tersebut mendorong Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) untuk peduli dan berkonstribusi. Sebagai wujud konstribusi pemikiran para pelaku usaha subsektor migas terhadap pemerintahan Jokowi-JK, khususnya dalam merumuskan solusi yang workable dari ancaman darurat energi, sekaligus merancang strategi jitu untuk mewujudkan kemandirian di sektor energi, Aspermigas berencana menyelenggarakan Seminar Nasional, mengingat pentingnya kebijakan serta keberpihakannya kepada rakyat yang tergolong kurang mampu dan ekonomi lemah.

Seminar yang mengambil tema ‘Indonesia Darurat Energi: Strategi Mewujudkan Kemandirian Sektor Migas’ tersebut akan digelar di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (4/12/2014). Rencananya, Presiden Joko Widodo akan hadir untuk membuka acara.

Seminar mengundang banyak pakar dan pemangku kepentingan dalam industri migas, pemerintah daerah penghasil migas, politisi dan kelompok kritis, jajaran kementerian terkait, organisasi dan asosiasi di sektor migas, tokoh perminyakan dan pengusaha migas nasional, Perla, dan lainnya.

Secara spesifik, seminar membahas pengelolaan sektor migas, baik di hulu maupun hilir, secara konstruktif dan komprehensif. Di antaranya, sejauh mana pemerintah dan juga rakyat Indonesia menyadari seriusnya ancaman darurat energi, rumusan kebijakan dan regulasi seperti apa yang dibutuhkan untuk mengurangi tingginya ketergantungan pada minyak impor, problem apa saja baik di hulu maupun di hilir yang mendesak untuk segera dibenahi, rumusan kebijakan dan rencana aksi Pemerintah Jokowi-JK untuk mewujudkan kemandirian di sektor energi, serta kemudahan apa yang ditawarkan untuk menarik investasi di sektor energi baik migas, penyediaan kapal, supplyperalatan, perizinan, dan lainnya.

“Harapannya adalah kita sama-sama mendapatkan jawaban yang komprehensif dan obyektif, serta memperoleh hasil kajian yang sarat data dan fakta. Bukan rekayasa ilmiah, akan tetapi rumusan kebijakan tersebut jelas merupakan rumusan ‘jitu’ terkait upaya upaya simultan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja sektor migas nasional,” ungkap Effendy Siradjuddin, Ketua umum Aspermigas.

Effendy memaparkan, kini, produksi minyak mentah Indonesia hanya 820 ribu barel per hari (bhp). Asing berhak atas 50 persen, dan sisanya untuk Indonesia, sekitar 400 ribu bph.

Diperkirakan, konsumsi Indonesia pada 2015 sekitar 1,8 juta bph. Artinya, tahun 2015, Indonesia mengimpor selisihnya atau sebesar 1,4 juta bph, senilai sekitar Rp750 triliun, termasuk biaya pengolahan, distribusi, dan bunga bank. Menurut pengamat, perkiraan subsidi BBM tahun 2015 sekitar Rp500 triliun. Pemerintah harus mengambil langkah yang tepat.

“Bilamana kebijakan yang tepat diterapkan oleh pemerintah, dengan demikian, kelompok masyarakat di lapisan akar rumput terselamatkan dari beban ekonomi sehari-hari yang mencekik leher,” pungkasnya.

Sumber : http://jurnalmaritim.com/2014/11/awal-desember-aspermigas-gelar-seminar-kemandirian-energi/

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English German Japanese Portuguese Russian Spanish

Event

Video Gallery