Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Migas Nasional menemui Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri, sekaligus mengajak duduk bersama membahas mafia migas dan solusi tuntas terkait permasalahan darurat energi.



"Pak Faisal dan timnya sudah setuju hadir dalam dialog nasional masyarakat migas yang akan digelar 19 Januari 2015 di Jakarta," kata Ketua Umum Aspermigas, Effendi Siradjuddin kepada pers di kantor Tim Reformasi Tata Kelola Migas (TRTKM) Jakarta, Senin (15/12).

Dalam pertemuan dengan TRTKM, lanjut Effendi, pihaknya memaparkan fakta-fakta seputar kondisi darurat energi, yang terutama dipicu oleh semakin tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak bumi.

Mengutip laporan Kementerian ESDM, per November 2014 Indonesia mengimpor bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 850 ribu barel per hari (bph) atau kurang lebih Rp1,7 triliun per hari dari total konsumsi BBM nasional sekitar 1,5 juta barel per hari (bph).

"Kalau tidak segera diantisipasi dengan strategi yang tepat, dalam beberapa dekade ke depan Indonesia harus bersiap menghadapi skenario terburuk, era tanpa minyak," tegasnya.

Sebagai gambaran, produksi puncak minyak dunia saat ini berada di kisaran 90 juta bph. Dari jumlah itu, sekitar setengahnya (45 juta bph) dikonsumsi sendiri oleh negara-negara produsen.

"Artinya, hanya sekitar 45 juta bph yang diperdagangkan di pasar dunia untuk diimpor oleh sejumlah negara," ujar Effendi. Dengan perkiraan impor minyak sebesar 900 ribu - 1 juta bph pada 2015, Indonesia akan berada pada urutan ke-14 dunia sebagai negara pengimpor minyak.

Kondisi di atas sangat kritikal, bahkan bisa dikualifikasi sebagai "membahayakan keamanan dan kesatuan nasional". Pasalnya, tanpa mengimpor, ketersediaan pasokan BBM Indonesia praktis hanya untuk bertahan 2-3 minggu.

"Hal itu tidak terlepas dari fakta, kemampuan produksi minyak Indonesia saat ini hanya di kisaran 800 ribu bph, yang notabene setengahnya adalah milik perusahaan asing," jelas Effendi.

Faisal Basri sependapat, problem riil bangsa terkait sektor migas dan energi, di antaranya menyangkut ketergantungan terhadap impor minyak.

"Tetapi, kita harus memastikan, apa sebenarnya penyebab terjadinya kondisi darurat. Jangan-jangan, penyebabnya lebih kepada manajemen pengelolaan migas. Sebab, banyak negara di dunia yang sama-sama bergantung pada impor minyak, tetapi tidak tampak kecemasan terhadap kondisi darurat," kata Faisal.

Sumber : http://industri.bisnis.com/read/20141215/44/382837/darurat-migas-aspermigas-temui-ketua-tim-reformasi-faisal-basri


Strict Standards: Non-static method modGTranslateHelper::getParams() should not be called statically in /home/vpcamdmi/public_html/modules/mod_gtranslate/mod_gtranslate.php on line 13

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/vpcamdmi/public_html/modules/mod_gtranslate/tmpl/default.php on line 115

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/vpcamdmi/public_html/modules/mod_gtranslate/tmpl/default.php on line 130

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/vpcamdmi/public_html/modules/mod_gtranslate/tmpl/default.php on line 142
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) English German Japanese Portuguese Russian Spanish

Event

Video Gallery